Tahun 2014, di sebuah garasi di Senopati, Pak Hadi menyangrai 2 kilogram biji Toraja yang dititipkan saudaranya. Tidak ada rencana bisnis, hanya satu permintaan: "Tolong jangan ada yang terbuang." Dari sana, Jaya Raya tumbuh.

Pak Hadi menyangrai biji pertama. Kafe pop-up tiap Sabtu pagi di garasi Senopati. 20 cangkir per minggu.
Pindah ke ruko kecil di Cikajang. Buka 6 hari seminggu. Mulai kerja sama dengan dua petani Toraja.
Roastery in-house lahir di belakang outlet Senopati. Kapasitas 80kg/hari. Mulai program beasiswa anak petani.
Pandemi datang. Tidak ada PHK. Mulai jualan biji secara online dan kirim ke 12 kota. 14 desa mitra resmi.
Outlet kelima dibuka di Ubud, Bali. Pertama kali di luar Jawa. Petani Flores bergabung sebagai mitra.
Generasi kedua mulai. Beasiswa pertama lulus dari IPB jurusan agribisnis kopi. Cucu kami akan tahu rasa Gayo.
Kami bekerja langsung dengan petani — tanpa tengkulak, tanpa lelang gelap. Setiap karung biji kami beli di atas harga pasar, dengan kontrak musim tanam 3 tahun. Karena warisan tidak bisa dibangun sendirian.
Kami tidak terburu-buru menyangrai, menyeduh, atau melayani. Setiap detik adalah bagian dari rasa.
Nama mereka tertulis di kantong biji kami. Kontribusi mereka jauh sebelum logo kami.
Sebuah kursi yang nyaman, lampu yang lembut, musik yang tidak menginterupsi — semua adalah bagian dari kopi.
Warisan adalah anak petani yang lulus kuliah, barista yang bisa beli rumah, pelanggan yang menua bersama kami.
Datang, duduk, biarkan kami seduhkan satu cangkir. Bawa pulang ceritamu.